“Aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engkau Dekat. Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu.” Begitulah sekelumit syair lagu berjudul “Tuhan” yang dibawakan oleh Bimbo. Kalau mendengar lagu ini dengan cermat, maka membuat orang yang rindu akan pertemuannya dengan Tuhan semakin merinding dan haru. Perasaan cinta semakin membara untuk menemui-Nya.
Dekatnya Tuhan dengan kita menjadi dambaan bagi para pesuluk jalan-jalan ilahi. Adakalanya untuk meraih sebuah nilai cinta dan kemuliaan Rububiyah bagaikan berjalan dalam sebuah tebing yang terjal. Ada yang dapat mendaki sedikit demi sedikit untuk meraih-Nya, ada yang terpeleset jatuh tapi bisa berpegangan pada ranting-ranting yang melekat pada tebing, adapula yang terperosok jatuh ke dasar. Sungguh untuk menuju cinta-Mu wahai Tuhan kami penuh dengan rintangan-rintangan yang berat. Wahai Tuhan kami, berikanlah pertolongan kepada kami, hamba yang penuh hina, untuk bisa merangkak tebing menuju cinta-Mu. Cinta yang tak kan bisa ditukar dengan apapun, selain melihat wajah-Mu.
Sungguh usia kami di dunia ini takkan cukup untuk meraih dan menggapai-Mu, Wahai Tuhan kami Pencipta Alam semesta, yang kekuasaan-Nya mengalahkan segala kekuasaan selain-Nya, Keperkasaan-Nya menundukkan segala yang perkasa, kemurahan-Nya mendahului segala murka-Nya, Kasih dan sayang-Nya memancarkan sinar yang tak kan pernah padam dan surut dari semua yang ada, keagungan-Nya memadamkan segala keangkuhan, karunia-Nya membentang di semua ciptaan-Nya. Dialah Tuhan. Tidak ada tuhan selain diri-Nya.
Konsep Fisika Dasar GLB Meniti Jalan Ilahi
Dalam fisika dasar, kita mengenal Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB). GLB adalah gerak lurus yang memiliki kecepatan konstan dan percepatan nol. Sehingga GLB memiliki persamaan S = V x t. Sedangkan GLBB adalah gerak lurus yang memiliki kecepatan yang berubah-rubah dan percepatan konstan. Sehingga GLBB memiliki persamaan S = V.t + ½ at2.
Bagaimana untuk lintasan yang tidak lurus ? Sebuah partikel yang bergerak dari posisi A ke posisi B pada dasarnya tidak dipengaruhi oleh bentuk lintasan. Apapun bentuk lintasannya, lurus, melengkung, kurva tak beraturan dan sebagainya, yang dihitung nanti adalah resultante-nya.
Penjumlahan semua vektor yang memiliki arah dan besaran dari posisi A ke posisi B memiliki arah bebas menghasilkan sebuah resultante vektor yang menghubungkan secara lurus dari posisi A ke posisi B.
Tuhan Maha Meliputi segala sesuatu. Eksistensi Keberadaan universal-Nya meniadakan segala sesuatu ketidakberadaan universal. Tuhan menjadi tumpuan segala sesuatu yang akan menenangkan hati, Tuhan adalah cahaya dari segala cahaya yang menyinari akal pikiran pengucapnya. Mata tidak mungkin memandang-Nya, lisan tidak akan mampu mensifati-Nya, dan tidak pula angan-angan mampu mengetahui bentuk-Nya. Eksistensi ketakberhinggaan universal-Nya memusnahkan segala keberhinggaan universal.
Jalan menuju cinta-Nya penuh mendaki. Tapi keberadaan cahaya cinta-Nya dibutuhkan bagi peniti jalan ilahi. Walau tebing terjal menjulang tinggi. Walau jalan untuk menggapainya penuh duri. Tapi cinta-Nya takkan pernah dapat dibeli. Hanya Cinta-Nya yang membuat kita gelisah dan rindu di hati.
Tuhan Yang Memiliki semua arah, Maha Perkasa, yang memiliki Kekuatan abadi yang menenggelamkan semua kekuatan dan keperkasaan selain diri-Nya. Eksistensi ketakberhinggan universal-Nya takkan dapat dijangkau oleh keberhinggaan universal.
Pendekatan riyadhah untuk menggapai cinta-Nya yang tak berhingga, ber-tawajjuh dengan-Nya, yang memiliki eksistensi ketakberhinggaan universal direpresentasikan dengan sebuah fungsi variabel jarak yang berubah terhadap waktu yaitu S = ~. Variabel jarak disini bukanlah variabel terukur yang memiliki ruang dan waktu. Akan tetapi variabel jarak disini adalah variabel tak terukur yang tidak memiliki ruang dan waktu, yaitu sebuah distance of spiritual state ( jarak kondisi spiritual ) antara state A ke state B.
Suatu hal yang mustahil bila fungsi yang memiliki variabel yang tak terikat dengan kondisi ruang dan waktu berbanding lurus dengan variabel fungsi waktu. Maka dari itu harus ada sebuah variabel yang kita abaikan ( ignore variable ) yaitu fungsi waktu itu sendiri.
Untuk mencapai distance of spiritual state ketakberhinggaan universal S = ~ tidaklah mungkin kita menggunakan variabel t = ~, yaitu ~ = V x ~, karena usia kita takkan mampu dan sangat terbatas untuk menggapai sebuah esensi Cinta yang Agung yang keagungannya meniadakan segala keberhinggaan universal.
Hanya ada satu approksimasi bagi peniti jalan-jalan Ilahi untuk meraih sinar permata cinta-Nya yang suci dan abadi, yaitu melakukan proses riyadhah untuk mendapatkan sebuah kecepatan yang tak berhingga ( unlimited velocity ), yaitu V = ~, yaitu sebuah velocity of spiritual state ( kecepatan kondisi spiritual ).
Jadi untuk mencapai distance of spiritual state ketakberhinggaan universal S = ~ yaitu dengan meningkatkan velocity of spiritual state yang tak berhingga ( unlimited velocity ) V = ~ , yaitu ~ = ~ x t .
Representasi Ketakberhinggaan Universal
Cinta Kasih dan Sayang yang diberikan oleh Tuhan kepada kita dan seluruh makhluk ciptaan-Nya beserta alam semesta dan segenap isi yang di dalamnya adalah sungguh luas dan tak berhingga sehingga kita takkan mampu menghitungnya. Dan Dia telah memberikan kepada kita segala apa yang kita mohonkan kepada-Nya. Dan jika kita menghitung segala nikmat dan karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, tidaklah kita dapat menghinggakannya. ( Q.S. 14 : 34 ). Ketakberhinggaan-Nya yang universal adalah wujud dari segala representasi sifat ketakberhinggaan.
Kecintaan-Nya dan Kasih Sayang-Nya serta Kemurahan Tuhan kepada kita takkan mampu ditukar dan dibayar dengan segala sesuatu. Hal ini digambarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah dalam pidatonya yang terkumpul dalam Kitab karyanya yang agung Nahjul Balaghah yaitu khotbah ke-52 mengatakan, “Demi Allah, andaikata hatimu mencair seluruhnya, matamu mengalirkan airmata darah karena rindu atau takut kepada-Nya dan kamu juga diperkenankan tinggal selama dunia ini maujud, maka amalmu takkan dapat membayar kemurahan-Nya yang besar serta tuntunannya dalam keimananmu.”
Eksistensi ketakberhinggaan Cinta dan Kemurahan Tuhan yang universal tidak bisa ditukar dengan darah kita, dengan hati kita yang mencair, air mata darah, tulang yang luluh lantak apalagi dengan sesuatu yang tak bernilai lainnya. Sungguh Agung Engkau Wahai Tuhan kami.
Spiritual Resultante
Tidak Dipengaruhi Lintasan Titian
Proses perpindahan suatu partikel dari satu posisi tertentu ke posisi yang lain yang dituju, resultante penjumlahan vektor-vektornya tidak dipengaruhi oleh bentuk lintasan. Para pesuluk, peniti jalan-jalan Ilahi, dalam menuju dan menggapai cinta-Nya serta dalam mengarungi samudera Makrifat-Nya yang begitu luas banyak jalan yang ditempuh. Perpindahan perjalanan dari satu spiritual state ke spiritual state yang lain resultante penjumlahan vektor-vekstor distance of spiritual state dan velocity of spiritual state tidak dipengaruhi bentuk-bentuk titian menuju sebuah Kecintaan dan Keagungan. Tuhan Yang Maha Pemberi Petunjuk, Maha Kasih dan Sayang, tidak melihat bagaimana para pencinta-Nya menempuh lintasan menuju Rububiyah-Nya.
Ada lintasan untuk meraih cinta-Nya dengan melakukan suluk ( thariqah ), ada berupa lintasan Ilmu Pengetahuan ( sains, al-Ilm ), ada yang menempuh cinta-Nya dengan lintasan pengembaraan ( tawajjuh ), ada menggapai-Nya dengan lintasan Etika dan Moral ( akhlak, amal ) sehingga hatinya selalu gelisah akan kekasihnya. Setiap yang dilihatnya adalah cahaya kekasihnya. Setiap nilai-nilai suka dan duka, cinta dan kebencian, harapan dan kekecewaan yang terbayang adalah asmara-Nya.
Terdapatlah suatu kisah yang memang terjadi, pertemuan antara dua orang peniti jalan-jalan Ilahi. Mereka dalam meniti jalan-jalan menuju kemuliaan Tuhan memiliki perbedaan lintasan. Yang satu adalah seorang ahli ibadah dan pesuluk, dan yang lainnya adalah seorang yang meniti lautan dan samudera Makrifat Tuhan melalui lintasan Ilmu Pengetahuan ( sains, al-Ilm ). Dua orang ini saling bertemu dan berdialog tentang Samudera Ilahi. Terjadilah dialog yang cukup panjang. Mereka melakukan sebuah transformasi pengetahuan ( Knowledge Transformation ) dari pengalaman-pengalaman mereka bergerak melalui sebuah lintasan menuju sebuah cahaya cinta.
Sampai pada tahapan puncak dari knowledge transformation mereka, sang pesuluk yang ahli ibadah itu mengatakan dengan penuh rasa kekagumannya kepada penempuh titian Ilahi melalui lintasan sains bahwa “saya sungguh heran, mengapa tuanku bisa mengetahui apa yang saya lihat”.
Begitu pula sang penempuh titian Ilahi melalui lintasan sains merasakan dengan penuh rasa hormat sambil mengatakan “Sungguh akupun juga heran, mengapa tuanku bisa melihat apa yang saya ketahui”.
Perjalanan menuju dan menggapai cinta-Nya takkan pernah berakhir selamanya, karena dimensi ruang dan waktu dihampakan oleh Ketakberhinggaan universal di atas segala-galanya. Harapan dan cita-cita untuk menemui-Nya berlangsung terus hingga energi mengalami titik jenuh kulminasi yaitu hari kebangkitan.
Dengarkanlah jeritan do’a seorang penempuh titian jalan-jalan Ilahi yang sejati yaitu Imam Ali bin Abi Thalib k.w, atas Kerinduan dan Kecintaan-Nya. “Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu. Dan seandainya aku ya Ilahi, Tuhanku, dapat bersabar menahan panas api-Mu, mana mungkin aku dapat bersabar tidak dapat melihat kemuliaan-Mu”
#Whd